Senjata dalam menghadapi tantangan hidup
Khutbah yang pertama
Wahai para hamba Allah, sidang jum’at yang dimuliakan oleh
Allah …
Sesungguhnya kehidupan manusia di dunia ini akan dipenuhi
oleh berbagai cobaan dan rintangan. Maka tak ada tempat berlindung kecuali
hanya kepada Allah semata. Setiap urusan dan perkara bergantung kepada kehendak
dan kekuaasan-Nya. Tak ada yang bisa memberi kemaslahatan dan menghindarkan
dari bahaya kecuali hanya Dzat-Nya dan tak ada sekutu bagi-Nya.
Oleh karena itu, bertawakal kepada Allah
merupakan senjata ampuh bagi kaum mukminin dalam menghadapi berbagai tantangan
hidup yang waktu demi waktu semakin tajam. Allah menegaskan di dalam Al-Qur’an:
وَعَلَى
اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ
“ dan hanya kepada Allah, kaum mukminin bertawakal.” (Ali
Imran: 122)
Ayat ini menunjukkan bahwa bagi kaum mukminin, tak ada yang
bisa memberikan rasa aman, kemaslahatan, dan perlindungan dari berbagai
marabahaya, kecuali hanya Allah semata. Allah ta’ala berfirman:
فَإِذَا
عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ
“Kemudian jika kamu telah membulatkan tekad, maka
bertawakallah kepada Allah.” (Ali Imran: 159)
Sesungguhnya setiap urusan yang akan diperbuat oleh setiap
hamba sangat membutuhkan kepada pertolongan dan kemudahan dari Allah Ta’ala.
Yang bisa mewujudkannya hanya Allah saja dan tidak yang selainnya. Maka bagi
kaum mukminin, Allah Ta’ala merupakan tempat menggantungkan diri dalam
menghadapi segala urusan yang mereka lakukan di dunia ini. Sehingga keinginan,
harapan, dan tujuan mereka tercapai dan terpenuhi dengan seizin Allah.
Sebagai bentuk tawakal kepada Allah, hendaknya setiap
perkara baik yang akan dilakukan oleh seorang mukmin, diawali dengan ucapan
’bismillah’ untuk memohon pertolangan dan kemudahan dari Allah. Inilah madzhab
ahlus sunnah dalam memaknai ucapan ’bismillah’ dari seorang hamba yang tunduk
kepada Dzat yang Maha kuasa.
Allah ta’ala berfirman:
وَمَنْ
يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ
حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ
أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ
لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا
“Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah
akan mencukupkan (keperluan) nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang
dikehendaki) Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap
sesuatu.” (Ath-Thalaq: 3)
Maka seluruh perkara berada di tangan Allah yang memiliki
seluruh alam ini. Allah ta’ala berfirman:
وَلِلَّهِ
غَيْبُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَإِلَيْهِ يُرْجَعُ الْأَمْرُ كُلُّهُ فَاعْبُدْهُ وَتَوَكَّلْ
عَلَيْهِ وَمَا رَبُّكَ بِغَافِلٍ
عَمَّا تَعْمَلُونَ
“Dan kepunyaan Allah-lah apa yang ghaib di langit dan di
bumi, kepada-Nya-lah dikembalikan urusan-urusan seluruhnya, maka sembahlah dia,
dan bertawakallah kepada-Nya. Dan sekali-kali Robmu tidak lalai dari apa yang
kamu kerjakan.” (Hud: 123)
Khutbah yang kedua
Wahai para hamba Allah, sidang jum’at yang dimuliakan oleh
Allah …
Dalam sebuah hadits, dari sahabat Abu huroiroh radhiyallahu
‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam bersabda:
الْمُؤْمِنُ
الْقَوِيّ خَيْرٌ وَأَحَبّ إِلَىَ
اللّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضّعِيفِ.
وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ.
“Seorang mukmin yang kuat lebih dicintai oleh Allah daripada
seorang mukmin yang lemah, dan pada masing-masingnya ada kebaikan.” (HR.
Muslim)
Hadits ini menunjukkan bahwa kekuatan seorang hamba adalah
pada keimanannya. Oleh sebab itu, Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam
mengkaitkan keimanan dengan kekuatan seorang hamba. Maka jika keimanan seorang
hamba bertambah kuat, niscaya dirinya akan semakin dicintai oleh Allah daripada
seorang hamba yang lemah keimanannya.
Lalu darimanakah bermula kekuatan iman bagi seorang hamba? Kekuatan iman yang
sangat besar akan lahir dari bertawakal kepada Allah. Sebagaimana yang
diucapkan oleh sebagian salaf: “Barangsiapa yang ingin menjadi seorang hamba
yang kuat (keimanannya), maka hendaklah dia bertawakal kepada Allah”. Ucapan
ini mensiratkan bahwa tawakal kepada Allah mendatangkan kebaikan-kebaikan dunia
dan akhirat. Itulah sebabnya, keimanan seorang hamba akan menjadi kuat dengan
bertawakal kepada Allah subhanahu wa Ta’ala.
Tawakal di dalam Islam memiliki kedudukan yang cukup tinggi.
Ibnu Qayyim rohimahulah berkata dalam kitabnya ”Madarijus Salikin”:
“Bertawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala merupakan setengah dari agama”.
Ini menunjukkan bahwa bertawakal kepada Allah memiliki kedudukan yang sangat
tinggi di dalam Islam.
Apakah yang dimaksud dengan bertawakal kepada Allah?
Bertawakal kepada Allah yaitu seorang hamba benar-benar menyandarkan dan
mempasrahkan dirinya kepada Allah di dalam menggapai berbagai kemaslahatan atau
menolak berbagai marabahaya, baik dalam urusan dunia maupun akhirat. Maka
inilah yang disebut dengan bertawakal kepada Allah. Dengan bertawakal kepada
Allah, seorang hamba akan memiliki kekuatan iman dalam meraih seluruh yang
dinginkannya dari segala kebaikan dunia maupun akherat.
Allah ta’ala berfirman:
وَاتَّقُوا
اللَّهَ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ
الْمُؤْمِنُونَ
“Dan bertakwalah kalian kepada Allah, dan hanya kepada Allah
sajalah orang-orang mukmin itu harus bertawakal.” (Al-Maidah: 11)
Bagi seorang yang tidak bertawakal kepada Allah, maka cobaan
yang kecil sekalipun akan mampu menggoncangkan keimanannya. Perkara yang
sedikit sekalipun akan bisa memalingkannya dari menghadap Allah ta’ala. Semua
itu karena dia telah kehilangan tawakal kepada Allah secara keseluruhan atau
sebagiannya.
Pernyataan Allah pada ayat diatas: “Dan hanya kepada Allah
sajalah orang-orang mukmin itu harus bertawakal”, ini menunjukkan bahwa seorang
yang lemah keimanannya akan berkurang tawakalnya dan seorang yang lemah
tawakalnya akan berkurang keimanannya. Maka tidak ada keimanan bagi seorang
yang sama sekali tidak bertawakal kepada Allah.
Wallahua’lam bi shawab.


0 comments:
Post a Comment